Oktober 20

0 comments

Aspek Perpajakan Yang Dikenakan Pada Investor Saham

Investor saham merupakan wajib pajak yang juga wajib membayar Pajak Penghasilan (PPh) dan melaporkannya dalam Surat Pemberitahuan Tahunan Pajak (SPT).

Karena investor dapat memperoleh pendapatan berupa deviden atas kepemilikan saham maupun pendapatan tambahan berupa capital gain.

Lantas, apa saja ketentuan perpajakan dalam investasi saham? Dan, berapa tarif pajak saham, jadi bagaimana cara melaporkan SPT tahunan? Berikut akan kami ulas dari berbagai sumber dan regulasi.

Pengertian Saham

Menurut Bursa Efek Indonesia (BEI) atau Bursa Efek Indonesia (BEI), saham merupakan salah satu instrumen pasar keuangan yang banyak orang minati.

Saham adalah tanda penyertaan modal seseorang atau badan usaha dalam suatu perseroan atau perseroan terbatas.

Dengan penyertaan modal ini, pemodal mempunyai tuntutan atas penghasilan perseroan, tuntutan atas kekayaan perseroan, dan berhak menghadiri Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS).

Perpajakan Yang Dikenakan Investor Saham

Pajak saham, adalah istilah yang melekat pada perlakuan pajak atas transaksi yang terjadi terkait dengan penjualan saham dan dividen yang investor dapatkan.

Kewajiban seorang investor untuk membayar pajak timbul ketika ia memperoleh pendapatan dari penjualan saham atau ketika investor menerima dividen.

Biaya Tarif Pajak Yang Dikenakan Investor Saham

Aspek Perpajakan Yang Dikenakan Pada Investor Saham

Payung hukum pengenaan pajak atas penghasilan yang ada dari penyertaan saham dan dividen terdapat dalam Pasal 4 ayat (2) huruf c Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1983 tentang Pajak Penghasilan s.t.d.d Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2021 tentang Harmonisasi Peraturan Perpajakan (UU HPP).

Penghasilan tambahan dari penjualan saham dan dividen merupakan objek pajak penghasilan final. Sedangkan pemotongan PPh atas penghasilan dari dividen mengacu pada Pasal 17 Ayat (2) huruf C UU PPh yaitu sebesar 11 persen dari penghasilan bruto.

Tarif pajak penghasilan final yang dikenakan atas penjualan saham adalah 0,1 persen dari jumlah bruto nilai transaksi penjualan. Artinya, pajak penghasilan final atas penjualan saham dikenakan tanpa memperhatikan apakah penjualan tersebut menghasilkan laba atau rugi.

BACA JUGA:  Status Wajib Pajak Non-Efektif Yang Dikecualikan Dari Pengawasan

Ketentuan teknis mengenai pemotongan pajak penghasilan final atas penjualan saham telah ada dalam Pasal 4 Ayat (1) KMK 282 Tahun 1997. Aturan tersebut menyebutkan bahwa pengenaan pajak penghasilan final berlangsung dengan pemotongan oleh penyelenggara BEI. melalui perantara pedagang efek pada saat penyelesaian transaksi penjualan saham.

Cara Melaporkan Pajak Investor Saham Dalam SPT Tahunan

Dalam Peraturan Direktur Jenderal Pajak Nomor PER-30/PJ/2017 (PER Nomor 30 Tahun 2017), formulir SPT Tahunan 1770S berguna untuk melaporkan penghasilan yang terkena pajak penghasilan final atau tidak final. Namun formulir ini hanya berfungsi untuk Wajib Pajak atau penanam modal yang tidak memiliki penghasilan dari usaha atau pekerjaan mandiri dan penghasilan dari luar negeri.

Jika penanam modal memiliki penghasilan dari usaha atau pekerjaan mandiri dan penghasilan dari luar negeri, penanam modal menggunakan formulir SPT tahunan 1770. Hal ini sesuai dengan Pasal 1 Ayat (1) PER Nomor 30 Tahun 2017.

Lebih jelasnya, berikut cara pelaporan SPT Tahunan bagi investor saham:

1. Menggunakan formulir SPT 1770-III

Formulir SPT Tahunan PPh Orang Pribadi 1770-III ini berguna oleh Wajib Pajak orang pribadi untuk melaporkan penghasilan yang terkena pajak final dan/atau final, penghasilan yang tidak kena pajak, dan penghasilan suami/istri yang terkena pajak tersendiri.

2. Isi total penjualan saham pada tahun berjalan

Jumlah penjualan saham yang berlangsung selama tahun berjalan masuk pada kolom “Penjualan Saham di Bursa Efek”. Tarif pajak final atas transaksi penjualan saham adalah 0,1 persen dari nilai bruto transaksi penjualan saham. Misalnya, jika seorang investor menghabiskan investasi Rp 100 juta untuk membeli saham, kemudian menjualnya di tahun berjalan dengan harga pasar, ia mendapat Rp 50 juta. Untuk transaksi ini, perhitungan pajaknya adalah Rp50.000 (Rp50 juta x 0,1 persen). Jumlah Rp 50.000 ini masuk dalam pajak final, sebagai pajak penghasilan terutang.

BACA JUGA:  Bagaimana Cara Cek NPWP Pribadi secara Online yang Mudah

3. Melaporkan total dividen

Pada kolom “Dividen”, investor harus melaporkan total dividen yang masuk pada tahun berjalan. Tarif pajak atas dividen bersifat final dengan ketentuan sebesar 11% dari pendapatan dividen yang masuk. Umumnya dividen ini langsung terpotong ketika masuk kepada investor.

4. Mengambil Formulir 1770-IV

Formulir 1770-IV ini berfungsi untuk mengisi jumlah kepemilikan saham, yang terhitung dari nilai pasar, bukan nilai biaya, untuk tahun berjalan sampai dengan tanggal 31 Desember. Jumlah kepemilikan saham tersebut masuk pada kolom “Kekayaan di akhir di tahun ini”. Misalnya, ketika seorang investor menginvestasikan Rp. 100 juta di awal tahun dan di akhir tahun portofolio tumbuh 20 persen, nilai pasar kepemilikan saham akan menjadi Rp. 120 juta. Jumlah ini kemudian melaporkan dalam SPT Tahunan.

Sebagai informasi, bagi investor yang sumber pendapatannya hanya berasal dari investasi saham, biasanya status SPT tahunannya nihil.

Namun, untuk situasi ini yang harus investor lakukan hanyalah mengisi dan melaporkan total pajak saham dari penjualan dan dividen selama satu tahun ke formulir pengembalian pajak tahunan. Investor juga harus memasukkan data terkait portofolio dalam SPT Tahunan.


Tags

akuntansi, arus kas, bayar pajak, biaya, bisnis, bisnis online, bisnis untung, cafe, cara, finance, franchise, grosir, harga, jurnal, karyawan, kena pajak, keuangan, keuntungan, kuliner, laba rugi, lapor pajak, laporan, laporan keuangan, mengatur keuangan, modal


You may also like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked

{"email":"Email address invalid","url":"Website address invalid","required":"Required field missing"}

You might also like

Top

SIAP KEMBANGKAN BISNIS!

Otomatisasi Bisnis dengan Metode PSF

Sudah bukan jamannya bisnis malah bikin stres..

Hari
Jam
Menit
Detik