November 14

0 comments

Lebih Hemat Pajak Dengan Memilih Badan Usaha Yang Tepat

Komentar yang sering saya dapat ketika saya berdiskusi terkait perpajakan dengan rekan – rekan saya yang memiliki usaha sendiri adalah “mengapa pajak yang saya bayarkan cenderung mahal? Kira–kira bagaimana ya agar membayar pajak lebih hemat dari sebelumnya? Sebenarnya apa badan usaha yang cocok untuk usaha saya?” Berikut kami ulas artikel tentang menghemat pajak dengan memilih badan usaha yang tepat.

Cara hemat dalam perpajakan? Tentunya ini sangat berpengaruh terhadap badan usaha yang kita miliki sekarang. Mengapa bisa berpengaruh? Karena bentuk badan usaha yang kita jalani atau kita miliki sekarang berkaitan  terhadap tarif perpajakan yang berlaku . Sebelum kita mengulas lebih jauh mari kita kenali dulu bentuk – bentuk badan usaha yang ada.

1# Perusahaan Perseorangan

Dari namanya kita tahu bahwa perusahaan perseorangan merupakan jenis kegiatan usaha, modal dan manajemennya ditangani oleh satu orang. Orang yang punya usaha tersebut biasanya menjadi manajer atau direktur sendiri, jadi tanggung jawabnya tidak terbatas. Namun jika untung, tentu untuk sendiri dong.

Ciri-cirinya :

  • Dimiliki oleh perorangan.
  • Pengelolaan terbatas atau sederhana.
  • Modal tidak terlalu besar.
  • Kelangsungan hidup usaha bergantung pada pemilik perusahaan.

2# Koperasi

Koperasi adalah jenis badan usaha yang beranggotakan orang – orang atau badan hukum koperasi dengan melandaskan kegiatannya berdasarkan prinsip koperasi sekaligus sebagai gerakan ekonomi rakyat yang

3# BUMN ( Badan Usaha Milik Negara )

BUMN merupakan jenis badan usaha dimana seluruh atau sebagian modal dimiliki oleh Pemerintah. Status pegawai yang bekerja di BUMN adalah karyawan BUMN, bukan pegawai negeri. Saat ini sih sudah ada 3 bentuk badan usaha BUMN, yaitu :

  • Perjan

Perjan merupakan salah satu bentuk badan usah yang seluruh modalnya dimiliki oleh Pemerintah. Kemudian perjan fokus melayani masyarakat. Namun karena selalu fokus pada masyarakat dan tanpa adanya pemasukan untuk menanggulangi hal tersebut, maka sudah tidak terapkan lagi. Contoh Perjan : PJKA (Perusahaan Jawatan Kereta Api), sekaran menjadi PT. KAI.

  • Perum

Perum ibarat perubahan dari Perjan. Sama seperti perjan, namun perum berorientasi pada profit atau mencari keuntungan. Perum dikelola oleh negara dan karyawan berstatus sebagai Pegawai Negeri. Walaupun sudah berusaha mencari keuntungan namun tetap saja merugi, sehingga Negara menjualnya ke publik dan pada akhirnya berganti nama menjadi Perseo.

  • Persero

Persero merupakan salah satu bentuk badan usaha yang dikelola oleh Negara. Tidak seperti Perjan dan Perum. Selain mencari keuntungan, Persero juga mendedikasikan untuk pelayanan masyarakat.

Ciri-ciri Persero :

  • Tujuan utamanya mencari laba (Komersial)
  • Modal sebagian atau seluruhnya berasal dari kekayaan negara yang dipisahkan yang berupa saham-saham
  • Dipimpin oleh direksi
  • Pegawainya berstatus sebagai pegawai swasta
  • Badan usahanya ditulis PT (nama perusahaan) (Persero)
  • Tidak memperoleh fasilitas negara

4# BUMS (Badan Usaha Milik Swasta)

Badan Usaha Milik Swasta atau BUMS adalah jenis badan usaha yang didirikan dan dimodali oleh seseorang atau sekelompok orang. Berdasarkan UUD 1945 pasal 33, bidang- bidang usaha yang diberikan kepada pihak swasta adalah mengelola sumber daya ekonomi yang bersifat tidak vital dan strategis atau yang tidak menguasai hajat hidup orang banyak. Berdasarkan badan hukumnya, BUMS dibedakan menjadi :

  1. Firma (Fa)

Firma merupakan badan usaha yang didirikan oleh 2 orang atau lebih dimana tiap anggota bertanggung jawab penuh atas perusahaan. Modal firman berasal dari anggota pendiri. Untuk laba atau keuntungan dibagikan kepada anggota dengan perbandingan sesuai akta sewaktu pendiriannya.

Ciri-ciri Firma :

  • Para sekutu aktif dalam mengelola perusahaan
  • Tanggung jawab tak terbatas atas segala resiko yang terjadi
  • Akan berakhir jika salah satu anggota mengundurkan diri atau meninggal dunia.
  1. CV ( commanditaire vennootschap ) atau Persekutuan Komanditer

Perusahaan Komanditier atau yang biasa disingkat menjadi CV meruapakan perusahaan persekutuan yang didirikan berbadasarkan saling percaya. Jadi tuh CV merupakan salah satu bentuk usaha yang dipilih para pengusaha yang ingin punya kegiatan usaha namun modal minim.

Dalam CV, terdapat beberapa sekutu yang secara penuh bertanggung jawab atas sekutu lainnya, kemudian ada salah satu yang menjadi pemberi modal. Dan tanggung jawab sekutu komanditer hanya terbatas pada sejumlah modal yang diberikan. Sehingga ada 2 jenis sekutu :

Sekutu aktif adalah anggota yang memimpin/ menjalankan perusahaan dan bertanggung jawab penuh atas utang- utang perusahaan.

Sekutu pasif / sekutu komanditer adalah anggota yang hanya menanamkan modalnya kepada sekutu aktif dan tidak ikut campur dalam urusan operasional perusahaan. Sekutu pasif bertanggung jawab atas risiko yang terjadi sampai batas modal yang ditanam.

Ciri – ciri CV :

  • Didirikan minimal 2 orang, dimana satu orang bertindak sebagai Persero aktif, dan satunya lagi sebagai persero pasif
  • Seorang persero aktif akan bertindak mengurus perseroan. Sehingga ia akan bertanggung jawab penuh atas segala resiko.
  • Persero pasif hanya bertindak sebagai sleeping partner. Dimana dia hanya bertanggung jawab sebesar modal yang ia setorkan ke dalam perseroan.

Untuk mendirikan CV lebih ribet, karena melalui akta notaris dan didaftarkan ke Departmen Kehakiman.

Status hukum badan usaha CV jarang dipilih oleh pemilik modal atau beberapa proyek besar

  1. PT ( Perseroan Terbatas )

Merupakan badan hukum perusahaan yang banyak diminati pengusaha. Kenapa? Karena badan hukum ini punya kelebihan  dibanding lainnya. Apa aja? seperti luasnya badan usaha yang bisa dimiliki, bebas dalam pergerakan bidang usaha dan tanggung jawab yang dimiliki terbatas hanya pada modal yang disetorkan.

Ciri – ciri PT :

  • Kewajiban terhadap pihak luar hanya terbatas pada modal yang disetorkan.
  • Mudah dalam peralihan kemepimpinan.
  • Usia PT tidak terbatas.
  • Mampu untuk menghimpun dana dalam jumlah yang besar.
  • Bebas untuk melakukan berbagai aktivitas bisnis.
  • Mudah mencari karyawan
  • Dapat dipimpin oleh orang yang tidak memiliki saham.
  • Pajaknya berganda antara Pajak Penghasilan dan Pajak Deviden
  1. Yayasan

Yayasan merupakan salah satu bentuk – bentuk badan usaha, namun yayasan tidak mencari untung. Jadi lebih ke kepentingan sosial dan berbadan hukum.

Ciri – ciri Yayasan :

  • Yayasan dibentuk berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
  • Yayasan dibentuk dengan memisahkan kekayaan pribadi pendiri untuk tujuan nirlaba, religi, sosial dan kemanusiaan.
  • Didirikan dengan akta notaris.
  • Tidak memilik anggota dan tidak dimiliki siapapun, namun memiliki pengurus atau organ untuk merealisasikan tujuan Yayasan.
  • Yayasan dapat dibubarkan oleh pengadilan dalam kondisi pertentangan tujuan yayasan dengan hukum, likuidasi dan pailit.

Setelah kita mengulas sedikit mengenai badan usaha di atas … di perpajakan yang diakui sebagai badan hukum hanya CV dan PT.

Dari sudut pandang pajak, CV dan PT merupakan Subjek Pajak Dalam Negeri yang berbentuk Badan. Karena definisi badan dalam Pasal 2 ayat (1) huruf b UU Nomor 36 Tahun 2008  tentang Pajak Penghasilan telah dengan tegas menyebutkan bahwa “badan adalah sekumpulan orang dan/atau modal yang merupakan kesatuan baik yang melakukan usaha maupun yang tidak melakukan usaha yang meliputi perseroan terbatas, perseroan komanditer….”.

Penghasilan yang diperoleh CV atau PT merupakan Objek Pajak baik yang berasal dari Indonesia maupun dari luar Indonesia, yang dapat dipakai untuk konsumsi atau untuk menambah kekayaan CV atau PT yang bersangkutan, dengan nama dan dalam bentuk apapun. Lantas bagaimanakah teknis perpajakan CV atau PT?  Sama atau berbeda? Mengingat karakteristis antara keduanya yang berbeda sebgaimana dijelaskan diatas.

Perencanaan pajak (tax planning) didefinisikan sebagai proses mengorganisasi usaha wajib pajak atau kelompok Wajib  Pajak sedemikian rupa sehingga hutang pajaknya baik pajak penghasilan maupun pajak-pajak lainnya berada dalam posisis yang minimal, sepanjang hal ini dimungkinkan oelh ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku (Mangonting, 1999).

Tujuan tax planning seperti diutarakan oleh James W. Pratt, Jane O. Bruns dan William N. Kulsrud  dalam buku Individual Taxation 1989 : 1-37) adalah : the obvious goal of most tax planning is the minimazion of the amount that a person or other entity must transfer to the government.

Menjelaskan strategi dalam meminimalkan jumlah beban pajak yang harus ditanggung Wajib Pajak. Tax Planning adalah unsur  dari Pengelakan Pajak (Tax Avoidance). Jadi Perencanaan Pajak bukan suatu hal yang menentang/melawan ketentuan perpajakan, melainkan dilakukan dengan cara memanfaatkan kebijakan yang sudah ada (tax avoidance) hal ini berbeda apabila dilakukan dengan cara ,melawan ketentuan yang berlaku sehingga dapat diancam dengan tuntutan pidana dibidang perpajakan (tax evasion).

Meskipun keduanya berpotensi merugikan penerimaan negara dari sektor perpajakan, tetapi tax avoidance adalah konsekuensi logis yang muncul dari setiap kebijakan perpajakan yang diterbitkan oleh Direktur Jenderal Pajak, sebab sudah menjadi dorongan naluriah Wajib Pajak untuk efisien dalam menjalankan usaha/bisnis. Tax Planning dapat dilakukan sejak awal pendirian usaha, yaitu dengann mempertimbangkan pilihan bentuk usaha.

Pada dasarnya tarif yang ditetapkan atas penghasilan yang diterima oleh CV atau PT sama, yaitu tergantung besaran omset yang diperoleh,

Jadii… mana yang lebih hemat???

Bentuk usaha berupa PT, sifat dasarnya adalah pemisahan kekayaan perusahaan dengan pemilik, sehingga terdapat potensi pengenaan pajak berganda ditiap pihak yang menerima penghasilan, dimana penghasilan bagi perusahaan dikenai pajak (PPh Pasal 25/29) begitu pula atas bagian keuntungan (dividen) yang dibagikan ke pemilik (badan/perseorangan) juga dikenai pajak (PPh Pasal 23/PPh Final Pasal 4 ayat (2)), termasuk gaji yang dibayarkan kepada manajemen juga dikenai pajak (PPh Pasal 21). Oleh karena itu, dalam menentukan penghasilan netto fiskal pada PT boleh membebankan biaya gaji sebagai pengurang laba bruto.

Dalam hal PT memiliki sumber penghasilan berupa dividen atas penyertaan modalnya (capital gain) kepada badan usaha yang didirikan dan bertempat kedudukan di Indonesia bukan termasuk Objek Pajak Penghasilan sepanjang nilai penyertaan modal yang diberikan kepada badan usaha tersebut sekurang-kurangnnya 25% dari nilai modal yang disetorkan. Hal ini merupakan Ketentuan Pasal 4 ayat (3) huruf f UU Nomor 36 Tahun 2008.

Berbeda dengan CV, aspek dasar perpajakan bagi CV dapat dikatakan lebih sederhana, sebab pada dasarnya CV merupakan pengembangan usaha kemitraan/perseorangan. CV bukan merupakan badan hukum, kekayaan atau aset suatu CV yang diterima pada akhir tahun hanya akan dikenai pajak satu kali saja (PPh Pasal 25/29) sementara atas bagian laba yang diberikan kepada pemilik tidak dikenai pajak dan termasuk non objek PPh sebagaimana telah ditetapkan didalam Pasal 4 ayat (3) huruf I UU Nomor 36 Tahun 2008.

Konsekuensi logis atas penghasilan yang diterima oleh manajemen sebuah CV adalah tidak dianggap sebagai gaji, karena secara hukum mereka tidak menerima gaji dari CV melainkan hanya berupa bagian laba, sehingga gaji yang dibayarkan pada manajemen sebuah CV tidak boleh dibebankan sebagai biaya sebagaimana disebutkan didalam Pasal 9 ayat (1) huruf j UU Nomor 36 Tahun 2008.

Terkait modal pada CV, besaran  nilainya sangat tergantung pada nilai yang disetorkan  oleh sekutut komplomemter (pasif) sehingga kekurangan modal yang terjadi jika sudah tidak kemungkinan dapat dapat berasal dari pihak ketiga.

Konsekuensi yang muncul berupa pembayaran bunga secara periodik  merupakan biaya yang dapat dikurangkan dari laba bruto, namun yang perlu diperhatikan adalah jika pihak pemberi pinjaman merupakan pihak yang memiliki hubungan istimewa dan besaran nilai yang dibayarkan melebihi jumlah biaya bunga wajar, maka selisih lebihnya tidak boleh dikurangkan untuk menghitung penghasilan netto sebagaimana telah disebutkan di dalam Pasal 9 ayat (1) huruf f UU Nomor 36 Tahun 2008.

Atas hal semacam ini maka selisih lebih tersebut termasuk dalam definisi Dividen yang diatur dalam  penjelasanPasal 4 ayat (1) huruf g angka 1 yaitu: pembagian laba baik secara langsung ataupun tidak langsung, dengan nama dan dalam bentuk apapun.

Berbeda dengan PT, dalam hal CV menerima Dividen atau bagian laba dari dana yang ditanamkan di bidang usaha yang berkedudukan di Indonesia, maka penghasilan berupa dividen atau bagian laba tersebut termasuk Objek Pajak Penghasilan yang dikenai PPh Final Pasal 4 ayat (2) sebesar 10% (cfm PP Nomor 19 Tahun 2009 dan PMK-110/PMK.03/2010) bila penerimanya adalah Orang Pribadi atau PPh Pasal 23 sebesar 15% bila penerimanya adalah badan tanpa melihat besaran penyertaannya.

Berdasarkan penjelasan di atas saya dapat simpulkan bahwa pemilihan bentuk badan usaha CV memberikan benefit pajak yang lebih tinggi dibandingkan dengan usaha perorangan atau PT, tapi baiknya tidak dijadikan sebagai satu – satunya dasar pengambilan keputusan karena harus mempertimbangkan lainnya. Tingginya beban pajak yang harus ditanggung oleh usaha perorangan disebabkan karena tarif progresif yang berlaku bagi wajib pajak orang pribadi. Untuk itu jika kita ingin lebih hemat dalam perpajakan, ada baiknya kita memilih badan usaha CV / membuat badan CV saja.

Demikian artikel tentang menghemat pajak dengan memilih badan usaha yang tepat. Apabila Anda memiliki pertanyaan dan kendala seputar bisnis, keuangan dan pajak, silahkan klik link dibawah ini untuk request sesi konsultasi gratis dengan tim kami. Semoga bermanfaat. 

[thrive_link color=’blue’ link=’https://dconsulting.id/konsultan-perencanaan-pajak/’ target=’_self’ size=’medium’ align=’aligncenter’]Perencanaan Perpajakan[/thrive_link]

Tags

akuntansi, arus kas, bayar pajak, biaya, bisnis, bisnis online, bisnis untung, cafe, cara, finance, franchise, grosir, harga, hemat pajak, jurnal, karyawan, kena pajak, keuangan, keuntungan, kuliner, laba rugi, pajak, pajak badan, perencanaan pajak, tax planning


You may also like

5 Langkah Mudah Melakukan Audit di Perusahaan Anda

5 Langkah Mudah Melakukan Audit di Perusahaan Anda

Istilah Akuntansi yang Perlu Anda Ketahui di Dunia Bisnis

Istilah Akuntansi yang Perlu Anda Ketahui di Dunia Bisnis
Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked

{"email":"Email address invalid","url":"Website address invalid","required":"Required field missing"}

You might also like

Top

SPECIAL WORKSHOP

4 Strategi Audit Internal Untuk Mencegah Kecurangan Pada Bisnis Anda

Hari
Jam
Menit
Detik