Oktober 7

0 comments

Pelaporan Pajak Untuk Anda Yang Usaha Online Shop

Pemilik Online Shop Wajib Tahu Pelaporan Pajak Ini

Belakangan ini, makin banyak orang yang menggunakan jasa toko online untuk memenuhi kebutuhan belanja mereka. Tidak hanya produk elektronik, di toko online Anda bisa mendapat berbagai jenis produk fashion, part otomotif, aksesori hingga makanan siap saji.

Menurut catatan Bank Indonesia, nilai transaksi e-commerce di tahun 2018, menembus angka Rp.144 Triliun. Jumlah ini naik dua kali lipat dari tahun 2016 yang hanya mencapai Rp.69.8 Triliun, dan diperkirakan akan terus bertambah di tahun-tahun berikutnya.

Pertumbuhan pesat bisnis e-commerce inilah yang akhirnya mendorong Kementerian Keuangan untuk menyusun Rancangan Peraturan Menteri Keuangan tentang Tata Cara Perpajakan Pelaku Usaha Perdagangan Berbasis Elektronik (RPMK Pajak E-commerce).

Dalam RPMK Pajak E-commerce tersebut, setidaknya ada dua jenis pajak yang wajib diketahui, dibayarkan dan dilaporkan oleh pemilik toko online, diantaranya:

1. Pajak Pertambahan Nilai (PPN)

Sebenarnya ini bukan pajak baru. Sejak 1 Januari 2014 silam, pemerintah Indonesia sebenarnya telah menetapkan aturan bagi pengusaha yang sudah memiliki omset di atas Rp.4.8 Miliar per tahun, wajib mengajukan diri sebagai Pengusaha Kena Pajak (PKP).

Peraturan tersebut tidak hanya berlaku bagi pengusaha offline, mereka yang bergerak di dunia e-commerce pun dipastikan terkena aturan tersebut. Dalam hal ini, Anda diwajibkan memungut PPN sebesar 10% dari setiap transaksi yang dilakukan, untuk kemudian menyerahkannya ke kas negara.

2. Pajak Penghasilan (PPh)

Berdasarkan PP Nomor 46 tahun 2013, pengusaha e-commerce yang sudah mencapai penghasilan hingga Rp.4.8 Miliar per tahun, akan dikenakan PPh final usaha mikro kecil menengah (UMKM), sebesar 1% dari total omset yang didapat.

Khusus untuk pengusaha e-commerce, prinsip yang berlaku dalam perhitungan PPh final adalah self assessment, yakni Anda diminta untuk menetapkan sendiri jumlah omset yang didapat selama sebulan. Setelah itu, barulah Anda akan diminta menghitung PPh final yang harus dibayar.

Dalam RPMK Pajak E-commerce, kabar terbaru menyebut jika pemerintah akan memberikan revisi penurunan tarif pajak, yakni menerapkan PPh final sebesar 0,5% bagi Anda yang sudah mencapai omset hingga Rp. 4.8 Miliar per tahun.

3. Akan Diberlakukan Secara Bertahap

Menurut data yang dihimpun Asosiasi E-commerce Indonesia (idEA), sebagian besar e-commerce UMKM di Indonesia, 43% diantaranya menawarkan barang dan jasa mereka lewat platform Facebook, sedangkan 16% lainnya menggunakan marketplace.

Selain itu, sebanyak 11% berjualan menggunakan Facebook dan Instagram, 5% melalui Instagram saja, dan 7% lainnya menggunakan website mandiri atau toko online sendiri.

Makanya buat Anda yang sudah tahu masuk dalam kategori Pengusaha Kena Pajak, sebaiknya jangan pernah terlambat dalam pelaporan pajak setiap bulannya. Anda bisa membayar pajak bulanan, paling tidak setiap tanggal 15 di bulan berikutnya.

Jangan pernah terlambat membayar pajak. Jika sampai kejadian, siap-siap saja Anda akan dikenakan denda keterlambatan sebesar 2% per omzet dikalikan dengan waktu keterlambatan. Ingat, warga yang baik pasti taat pajak! Hindari telat membayar pajak dengan memahami secara detail ketentuan pajak bagi pengusaha online shop. Kami rangkum dalam sebuah video berikut ini, silahkan disimak hingga akhir video.


Tags


You may also like

Apa Pentingnya Software Akuntansi Buat Usaha Anda?

Bagaimana Prosedur Penjualan Yang Tepat Pada Usaha Distributor?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked

{"email":"Email address invalid","url":"Website address invalid","required":"Required field missing"}

You might also like

Top
Jakarta OfficeSurabaya OfficeInstagramFacebookYouTube