Maret 20

0 comments

Mengenal Tarif PPN dan Cara Praktis Mengoptimalkan Pajak Bisnis

Apa itu Pajak Pertambahan Nilai?

PPN (Pajak Pertambahan Nilai) adalah salah satu elemen penting dalam sistem perpajakan di banyak negara, termasuk Indonesia. Pajak Pertambahan Nilai merupakan pajak yang di kenakan atas nilai tambah dari suatu Barang Kena Pajak (BKP) atau Jasa Kena Pajak (JKP). PPN merupakan pungutan yang di kenakan dalam semua siklus bisnis termasuk produksi dan distribusinya, ketika ada transaksi atau penyerahan Objek Pajaknya.

Dalam proses produksi, bahan baku yang di beli dari pemasok awal juga di kenakan PPN. Ketika sudah berubah menjadi barang atau produk jadi, di kenakan PPN lagi dalam penjualannya. Sehingga, pihak yang menanggung beban pajak adalah konsumen akhir atau pembeli. 

ppn

Objek Pajak Pertambahan Nilai

Berikut barang yang tidak di kenakan PPN:

  1. Barang hasil pertambangan atau hasil pengeboran yang di ambil langsung dari sumbernya
  2. Barang kebutuhan pokok yang di butuhkan bagi masyarakat luas
  3. Makanan dan minuman yang di sajikan di hotel, restoran, rumah makan, warung, dan sejenisnya, namun sebagai gantinya akan dikenakan pajak daerah
  4. Uang, emas batangan, dan surat berharga

Berikut jasa yang tidak di kenakan PPN:

  1. Jasa pelayanan kesehatan
  2. Jasa pelayanan sosial
  3. Jasa pengiriman surat dengan perangko
  4. Jasa keuangan
  5. Jasa asuransi
  6. Jasa keagamaan
  7. Jasa pendidikan
  8. Jasa kesenian dan hiburan
  9. Jasa penyiaran yang tidak sebagai promosi
  10. Jasa angkutan umum
  11. Jasa tenaga kerja
  12. Jasa perhotelan
  13. Jasa yang di sediakan oleh pemerintah
  14. Jasa penyediaan tempat parkir
  15. Jasa telepon umum dengan menggunakan uang logam
  16. Jasa pengiriman uang dengan wesel pos
  17. Jasa boga atau katering

Tarif

Selain barang atau jasa yang telah di sebutkan di atas, maka dikenakan PPN sesuai dengan tarif yang berlaku. Penentuan tarif Pajak Pertambahan Nilai di atur dalam Undang-Undang No 42 Tahun 2009 tentang Pajak Pertambahan Nilai Barang dan Jasa dan Pajak Penjualan Atas barang Mewah. Selain itu ada beberapa pembaharuan tentang PPN yang di atur dalam Undang-Undang No 11 Tahun 2020 dan juga Undang-Undang HPP No. 7 Tahun 2021 tentang Harmonisasi Perpajakan. Berikut tarif Pajak Pertambahan Nilai yang berlaku:

  1. Tarif Pajak Pertambahan Nilai 0% berlaku untuk kemudian ekspor Barang Kena Pajak Berwujud, Barang Kena Pajak Tidak Berwujud dan ekspor Jasa Kena Pajak.
  2. Tarif Pajak Pertambahan Nilai 11% berlaku untuk kemudian semua produk yang beredar di dalam negeri, termasuk Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE).
  3. Tarif PPN atas barang mewah di tetapkan paling rendah 11% dan paling tinggi 200%.
  4. Khusus untuk kemudian barang dan jasa yang terkena tarif Pajak Pertambahan Nilai 11%, besaran tarif tersebut masih dapat di ubah menjadi paling rendah 5% hingga paling tinggi 20% mengikuti peraturan pemerintah yang berlaku.
BACA JUGA:  Rahasia Ampuh mendapatkan Profit yang Lebih Besar Tanpa Menambah Modal

PPN dalam Sudut Pandang Bisnis

Bagi bisnis, mengoptimalkan tarif PPN dapat menjadi langkah kritis untuk kemudian meningkatkan efisiensi keuangan yang berkelanjutan. Dalam artikel ini, kita akan membahas beberapa strategi praktis yang kemudian dapat membantu bisnis mengoptimalkan tarif PPN mereka.

1. Pahami Klasifikasinya

Langkah pertama untuk kemudian mengoptimalkan tarifnya adalah memahami klasifikasi untuk produk atau jasa yang Anda tawarkan. PPN sering kali memiliki tarif yang berbeda untuk kemudian berbagai kategori barang dan jasa. Pastikan bahwa produk atau jasa yang kemudian Anda tawarkan sesuai dengan klasifikasi yang benar agar tarif yang di kenakan tidak melebihi atau kurang dari seharusnya.

2. Manfaatkan Pembebasan PPN

Beberapa produk atau jasa dapat memenuhi syarat untuk kemudian pembebasan PPN atau tarif yang lebih rendah. Pastikan untuk kemudian memahami aturan dan regulasi yang berlaku untuk bisnis Anda. Misalnya, ada barang atau jasa yang dapat di kenai tarif nol persen atau tarif yang lebih rendah berdasarkan kebijakan pemerintah.

Tarif nol persen ini di berlakukan untuk kemudian penyerahan Barang Kena Pajak (BKP) ke luar negeri untuk tujuan ekspor. Jika ingin mendapatkan keuntungan dari tarif nol persen ini, maka ekspor adalah pilihan yang tepat.

3. Optimalkan Kredit Pajak Masukan

Bisnis kemudian dapat mengoptimalkan tarif PPN dengan memastikan bahwa kredit pajak masukan di manfaatkan seefisien mungkin. Pastikan bahwa semua faktur dan dokumentasi terkait dengan pembelian barang atau jasa yang di kenai PPN telah dicatat dengan benar. Pemantauan yang cermat terhadap kredit pajak masukan kemudian akan membantu mengurangi beban pajak yang seharusnya di bayar. Ekualisasi terhadap Faktur Pajak Masukan tak kalah pentingnya dengan Faktur Pajak Keluaran, sehingga perlu dipastikan bahwa semua Faktur Pajak Masukan sudah di arsip dengan baik untuk kemudian dapat dikreditkan.

BACA JUGA:  Sudah Membuat NPWP, Tiba-tiba Dapat Tagihan Pajak 16 Juta!

4. Implementasikan Sistem Pencatatan yang Efisien

Sistem pencatatan yang efisien sangat penting dalam mengoptimalkan tarif PPN. Pastikan bahwa bisnis Anda kemudian memiliki sistem pencatatan yang akurat dan terorganisir. Ini akan memudahkan dalam pelacakan transaksi, penghitungan PPN, dan memenuhi persyaratan pelaporan kepada otoritas pajak. Penggunaan program yang dapat menghitung otomatis nilai dari suatu transaksi dan pajak yang timbul atas transaksi tersebut kemudian dapat membantu untuk perhitungan tarif PPN yang di potong dan di pungut.

5. Perhatikan Perubahan Regulasi

Dalam lingkungan perpajakan yang terus berubah, penting untuk kemudian tetap up-to-date dengan perubahan regulasi terkait PPN. Perubahan ini kemudian dapat mempengaruhi tarif PPN, pembebasan, atau kebijakan kredit pajak masukan. Menyadari perubahan ini dan menyesuaikan strategi bisnis secara proaktif akan membantu bisnis tetap sesuai dengan peraturan yang berlaku.

Kesimpulan

Mengoptimalkan tarif PPN untuk bisnis adalah langkah strategis untuk menjaga keberlanjutan keuangan bisnis. Dengan memahami klasifikasi PPN, memanfaatkan pembebasan PPN, mengoptimalkan kredit pajak masukan, menerapkan sistem pencatatan yang efisien, dan memantau perubahan regulasi, kemudian bisnis dapat mengurangi beban pajak dan meningkatkan efisiensi keuangan mereka. Konsultasikan dengan ahli pajak atau penasehat keuangan untuk kemudian memastikan bahwa strategi yang di adopsi sesuai dengan kebutuhan dan tujuan bisnis Anda.

Penulis: Fathul, Consultant of Dconsulting Group


Tags

akuntansi, arus kas, bayar pajak, biaya, bisnis, bisnis online, bisnis untung, cafe, cara, finance, franchise, grosir, harga, jurnal, karyawan, kena pajak, keuangan, keuntungan, kuliner, laba rugi, lapor pajak, laporan, laporan keuangan, mengatur keuangan, modal


You may also like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked

{"email":"Email address invalid","url":"Website address invalid","required":"Required field missing"}

You might also like

Top

SIAP KEMBANGKAN BISNIS!

Otomatisasi Bisnis dengan Metode PSF

Sudah bukan jamannya bisnis malah bikin stres..

Hari
Jam
Menit
Detik