September 10

0 comments

Mengenal Rekonsiliasi Koreksi Fiskal Positif dan Negatif

Perusahaan yang beroperasi di Indonesia (termasuk perusahaan asing yang membuka cabang di Indonesia) wajib membayar pajak dan menyampaikan laporan keuangan seperti koreksi fiskal positif dan negatif.

Namun permasalahannya, terdapat perbedaan regulasi pelaporan keuangan dari segi standar akuntansi yang berlaku dan perpajakan Indonesia.

Dalam konteks perpajakan, laporan keuangan yang tersusun sesuai dengan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) yang berlaku pada laporan komersial.

Sedangkan laporan keuangan yang sesuai dengan peraturan perpajakan yang berlaku yaitu laporan fiskal

Penyusunan laporan keuangan bagi suatu perusahaan harus sesuai dengan aturan fiskal yang ada, apalagi jika laporan keuangan tersebut menjadi dasar pembuatan SPT yang nantinya akan terlapor ke kantor pajak.

Nah, untuk itu memerlukan penyesuaian yaitu koreksi atau rekonsiliasi fiskal.

koreksi fiskal positif dan negatif

Pengertian Koreksi Fiskal Positif dan Negatif

Rekonsiliasi fiskal atau koreksi fiskal adalah proses pencatatan, penyesuaian, dan koreksi yang dapat berjalan karena adanya perbedaan perlakuan atas pendapatan atau laba komersial serta biaya antara standar akuntansi dan aturan perpajakan yang berlaku.

Hal ini bertujuan untuk mencocokkan perbedaan yang ada pada laporan keuangan komersial dengan laporan keuangan yang telah tersusun dengan menggunakan sistem fiskal dan membantu menghitung pendapatan wajib pajak.

Laporan keuangan komersial berfungsi untuk menilai situasi keuangan di sektor swasta serta kinerja ekonomi secara umum, sedangkan laporan keuangan fiskal berfungsi untuk menghitung pajak.

Tujuan Koreksi Fiskal

Berikut adalah fungsi dan tujuan koreksi fiskal:

  • Sebagai alat untuk memenuhi draft laporan keuangan. Agar rancangan laporan sesuai dengan ketentuan dan peraturan yang berlaku, perusahaan wajib melakukan koreksi fiskal untuk memastikan tidak ada kerancuan dan ketidaksesuaian dalam laporan yang tersusun.
  • Meminimalkan kesalahan perhitungan pajak. Kesalahan dalam perhitungan pajak dapat merugikan perusahaan. Oleh karena itu, perusahaan harus lebih berhati-hati dalam rekonsiliasi fiskal dengan informasi transaksi dan pendapatan yang sesuai.
BACA JUGA:  NPWP Adalah Identitas Wajib Pajak, Simak Apa Kegunaannya!

Jenis Rekonsiliasi Fiskal

Rekonsiliasi fiskal memiliki 2 jenis yang berkumpul berdasarkan perbedaannya, apakah itu?

1. Beda Tahap

Jenis pertama adalah rekonsiliasi selisih tetap.

Rekonsiliasi selisih tetap adalah jenis rekonsiliasi fiskal yang terjadi karena transaksi yang telah terakui oleh wajib pajak sebagai beban atau pendapatan atau beban menurut standar akuntansi keuangan.

Jenis rekonsiliasi ini adalah selisih antara laba kena pajak dan laba akuntansi tidak kena pajak yang timbul karena transaksi tersebut tidak dapat terhapus secara otomatis pada periode lain menurut undang-undang perpajakan.

Laba sebelum pajak yang juga dikenal dengan Earning Before Tax (EBIT) adalah keseluruhan pendapatan perusahaan sebelum dikenakan pemotongan pajak perusahaan.

Sedangkan laba setelah pajak adalah laba yang diperoleh dari laba kotor dikurangi pajak, bunga, dan biaya operasional perusahaan.

Selain kedua jenis laba tersebut, ada 2 jenis laba lain yang juga penting dalam penyusunan laporan laba rugi, yaitu laba kotor atas penjualan dan laba operasi.

Laba kotor penjualan adalah selisih antara harga pokok penjualan dan penjualan bersih. laba kotor atas penjualan juga belum dikurangi dengan total beban usaha perusahaan dalam periode tertentu.

Sedangkan laba operasi bersih merupakan pengurangan dari pendapatan penjualan kotor dengan seluruh biaya produksi, biaya administrasi, biaya penjualan, dan biaya operasional lainnya.

2. Beda Waktu

Jenis ini terjadi karena adanya perbedaan waktu pengakuan baik pendapatan maupun biaya antara sistem akuntansi dan sistem perpajakan.

Dalam hal ini, pengakuan penghasilan dalam akuntansi komersial diterima setelah lebih dari satu tahun, sedangkan menurut undang-undang perpajakan, penghasilan harus diakui pada saat diterima sekaligus.

Perbedaan ini menyebabkan pencatatan liabilitas pajak tangguhan yang dapat kurang untuk sementara dan dapat menyebabkan pencatatan aset pajak tangguhan itu sendiri.

BACA JUGA:  Hal Yang Wajib Anda Catat Sebelum Menjadi Akuntan Perpajakan

Jadi, transaksi pajak dan transaksi akuntansi komersial adalah sama, tetapi waktu alokasi biayanya berbeda.

Penyebab Terjadinya Koreksi Fiskal Positif dan Negatif

Perlakuan koreksi fiskal itu sendiri tertuang dalam peraturan perpajakan UU No. 36 tentang Pajak Penghasilan Koreksi fiskal terbagi menjadi dua, yaitu koreksi positif dan koreksi negatif.

Koreksi Fiskal Positif

Tujuan dari koreksi fiskal positif adalah untuk menambah laba komersial atau laba Penghasilan Kena Pajak (PhKP).

Penyesuaian ini akan menambahkan pendapatan dan mengurangi atau mengeluarkan biaya-biaya yang sekiranya harus terakui secara fiskal.

Secara rinci, penyebab dari koreksi positif adalah sebagai berikut. :

  1. Biaya yang dibebankan/dikeluarkan untuk kepentingan pribadi Wajib Pajak atau tanggungannya.
  2. Dana cadangan.
  3. Penggantian atau kompensasi sehubungan dengan pekerjaan atau layanan yang tersampaikan dalam bentuk barang atau kesenangan.
  4. Jumlah yang melebihi jumlah wajar yang dapat membayarkan kepada pihak berelasi sehubungan dengan pekerjaan yang ada.
  5. Harta yang merupakan pemberian, bantuan, atau sumbangan.
  6. Pajak penghasilan.
  7. Gaji tersampaikan kepada pemilik.
  8. Sanksi administratif.
  9. Selisih antara penyusutan/amortisasi komersial dengan penyusutan/amortisasi fiskal.
  10. Biaya untuk memperoleh, menagih, dan memelihara penghasilan yang terkena Pajak Penghasilan final dan penghasilan yang tidak termasuk objek pajak.
  11. Penyesuaian fiskal positif lainnya yang tidak berasal dari hal-hal tersebut di atas.

Koreksi Fiskal Negatif

Di sisi lain, tujuan dari koreksi fiskal negatif adalah untuk mengurangi keuntungan komersial atau keuntungan PhKP.

Hal ini karena pendapatan komersial yang lebih tinggi dari pendapatan fiskal dan biaya komersial yang lebih rendah dari biaya fiskal.

Penyebab dari koreksi negatif itu sendiri adalah

  1. Penghasilan yang terkena PPh Final dan penghasilan yang tidak termasuk dalam objek pajak tetapi termasuk dalam siklus usaha.
  2. Selisih antara penyusutan/amortisasi komersial dengan penyusutan/amortisasi fiskal.
  3. Penyesuaian fiskal negatif lainnya yang tidak berasal dari hal-hal tersebut di atas.
BACA JUGA:  Regulasi Terbaru Terkait E Faktur Yang Perlu Anda Ketahui

Tags

akuntansi, arus kas, bayar pajak, biaya, bisnis, bisnis online, bisnis untung, cafe, cara, finance, franchise, grosir, harga, jurnal, karyawan, kena pajak, keuangan, keuntungan, kuliner, laba rugi, lapor pajak, laporan, laporan keuangan, mengatur keuangan, modal


You may also like

Ukur Kinerja Karyawan Dengan Metode Balanced Scorecard

Ukur Kinerja Karyawan Dengan Metode Balanced Scorecard

Desainer Wajib Tahu Ini! Pajak Yang Dikenakan Pada Desainer

Desainer Wajib Tahu Ini! Pajak Yang Dikenakan Pada Desainer
Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked

{"email":"Email address invalid","url":"Website address invalid","required":"Required field missing"}

You might also like

Top