Juli 15

0 comments

Dasar Analisa Fundamental Pada Laporan Keuangan Perusahaan

Memahami analisa fundamental perusahaan sebenarnya mudah. Hanya saja terkadang bahasa dan penjelasannya terlalu rumit. Padahal, analisis ini sangat penting bagi investor, baik pemula maupun berpengalaman, untuk lebih mengenal saham atau emiten yang akan menjadi tujuan investasinya.

Pada artikel ini, kami akan menjelaskan beberapa istilah penting yang harus di pahami saat berinvestasi saham. Sebab, tanpa memahami istilah-istilah dalam analisis fundamental ini, akan sulit bagi investor untuk memperoleh keuntungan dari investasinya.

Mengapa? Karena saham merupakan instrumen investasi yang berisiko tinggi. Salah-salah, bukan untung yang di dapat, melainkan kerugian yang justru berlipat ganda.

analisa fundamental

Berikut ini adalah beberapa poin penting dalam melakukan analisa fundamental pada laporan keuangan perusahaan yang harus di pahami investor.

Earning per Share (EPS)

Earning per Share (EPS) dalam bahasa Indonesia di sebut dengan laba bersih per saham. Sederhananya, EPS adalah hasil pembagian laba bersih perusahaan dengan jumlah saham yang beredar di suatu emiten.

Rumusnya adalah: EPS = Laba: Jumlah Saham Beredar. Jika EPS bernilai Rp100, berarti setiap lembar saham perusahaan akan menghasilkan keuntungan sebesar Rp100.

Price to Earning Ratio (PER)

Price to Earning Ratio (PER) adalah rasio yang menggambarkan keuntungan suatu perusahaan jika di bandingkan dengan harga sahamnya. Rumusnya adalah, PER = Harga Saham : Earning per Share (EPS).

Rumus ini di gunakan untuk menghitung berapa lama waktu yang di butuhkan perusahaan untuk mengembalikan modal yang di gunakan untuk membeli saham. Misalnya, harga saham TLKM saat ini adalah Rp. 100, sedangkan EPSnya Rp. 20 per tahun.

Maka perhitungan PER adalah Rp. 100 : Rp. 20 = 5. Angka 5 menunjukkan tahun yang di butuhkan untuk mengembalikan modal. Artinya, perusahaan membutuhkan waktu 5 tahun untuk mengembalikan modalnya. Namun, itu hanya berlaku jika EPS perusahaan tidak tumbuh atau menyusut dalam lima tahun.

Price to Book Value (PBV)

PBV adalah rasio untuk menggambarkan seberapa besar nilai pasar harga suatu perusahaan di bandingkan dengan kekayaan bersihnya. Rumusnya adalah PBV = Harga Saham : Nilai Buku per Saham (BV).

Jadi pertanyaannya, apa itu BV atau nilai buku? Nilai buku adalah hasil pembagian ekuitas atau kekayaan bersih dengan jumlah saham yang beredar.

Oleh karena itu, jika harga saham di bagi dengan BV, hasilnya adalah PBV. Misalnya, harga saham TLKM saat ini adalah Rp 100 dan nilai buku Rp 50 per saham. Jika di hitung, Rp100: Rp50 = 2 atau 2 kali. Artinya, PBV saham TLKM saat ini naik dua kali lipat di bandingkan kekayaan bersihnya.

Return On Equity (ROE)

ROE adalah rasio untuk menghitung seberapa tinggi persentase laba bersih perusahaan jika di bandingkan dengan total ekuitasnya. Rumusnya adalah, ROE = Laba (Bersih: Ekuitas) x 100.

Misalnya, laba bersih TLKM saat ini Rp100 dan ekuitasnya Rp1.000. Maka Rp100 : Rp1.000 x (100) = 10 atau 10%. Artinya saat ini modal yang di tanamkan oleh perusahaan sebesar Rp. 1.000, yang akan memberikan keuntungan sebesar Rp. 100 atau 10%.

Dividen Yield (DY)

DY merupakan rasio untuk menggambarkan seberapa besar persentase pembagian dividen perusahaan kepada pemegang saham. Rumusnya adalah, DY = (Dividen per Saham: Harga Saham) x 100.

Jadi bagaimana Anda tahu nilai dividen per saham? Biasanya, emiten akan mengumumkan pembagian dividennya dalam keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia. Nah, jika Anda ingin menghitungnya secara manual, maka Anda bisa mengetahui berapa deviden per sahamnya dalam keterbukaan informasi.

Debt to Equity Ratio (DER)

DER atau dengan kata lain debt to equity ratio. Rasio ini di gunakan untuk menghitung kemampuan perusahaan dalam melunasi utang-utangnya. Rumusnya adalah, DER = Total Hutang: Ekuitas.

Akun hutang ini berada dalam akun kewajiban atau kewajiban. Namun, tidak semua kewajiban di anggap utang. Hanya rekening-rekening yang di awali dengan kata ‘utang’ yang di masukkan dalam perhitungan, antara lain utang usaha, utang pajak, utang uang muka nasabah, pinjaman bank, dan utang lainnya.

Misalnya, Telkom memiliki utang sebesar Rp. 1.000 dan ekuitas Rp. 500. Kemudian Rp500: Rp1.000 = 0,5. Artinya DER Telkom saat ini hanya 0,5 atau di bawah 1. Hal ini menunjukkan bahwa perusahaan masih memiliki kemampuan yang cukup baik untuk membayar utang-utangnya.

Nah informasi di atas adalah sekilas tentang analisa fundamental pada laporan keuangan. Memang ya, kalo soal perhitungan seperti ini harus detail. Namun jika kami tulis detail akan panjang artikel ini. Oleh karena itu kami buat sebuah video penjelasan tentang analisa fundamental ini. Simak video berikut ini.


Tags

akuntansi, arus kas, bayar pajak, biaya, bisnis, bisnis online, bisnis untung, cafe, cara, finance, franchise, grosir, harga, jurnal, karyawan, kena pajak, keuangan, keuntungan, kuliner, laba rugi, lapor pajak, laporan, laporan keuangan, mengatur keuangan, modal


You may also like

1300 Cabang di 9 Negara, Simak Rahasia Sukses Kebab Turki Baba Rafi

5 Tips Mengelola Keuangan Bisnis Pasca Pandemi COVID-19

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked

{"email":"Email address invalid","url":"Website address invalid","required":"Required field missing"}

You might also like

Top
Jakarta OfficeSurabaya OfficeInstagramFacebookYouTube